Minggu, 10 Mei 2015

GEDUNG SULTAN ABDUL SAMAD
ABSTRAKSI
Kuala Lumpur memiliki banyak bangunan bersejarah—yang kemudian banyak berdampingan dengan gedung-gedung modern pencakar langit yang baru dibangun medio akhir-akhir ini. Bagi warga KL keberadaan sebuah bangunan tak hanya dipandang sebagai penghias kota dengan nuansa jadulnya yang kental, namun kebanggaan tersendiri karena mereka—dalam hal ini otoritasnya—telah mampu mempertahankan warisan-warisan sejarahnya yang sangat bernilai.
Ketika libur datang, alternatif jika tidak berwisata ke tempat-tempat hiburan atau wahana wisata populer banyak yang kemudian menyempatkan diri mengunjungi gedung-gedung bernilai sejarah tinggi tersebut.
Dan salah satu gedung bersejarah yang dimiliki oleh Malaysia, khususnya Kuala Lumpur itu ialah Gedung Sultan Abdul Samad (Sultan Abdul Samad Building) yang letaknya sangat berdekatan dengan Dataran Merdeka (Merdeka Square).
Apakah Anda tahu apa itu Dataran Merdeka? Kawasan ini dipandang sebagai tempat bersejarah bagi bangsa Malaysia karena untuk pertama kalinya bendera kebangsaannya dikibarkan ditempat ini ketika kemerdekaan yang telah lama didambakannya akhir didapat pada 31 Agustus 1957.
Pasca itu, hampir setiap tahunnya dataran ini menjadi lokasi untuk memperingati momen hari kemerdekaan Malaysia. Di Dataran Merdeka ini terdapat tiang bendera yang konon sebagai tiang bendera tertinggi di dunia sekitar 100 meter.
Nah, tepat diseberangnya Dataran Merdeka ini Gedung Sultan Abdul Samad berada. Gambar gedung ini dari berbagai sudutnya banyak digunakan oleh otoritas Malaysia untuk mempromosikan dan mengenalkan secara massif turismenya. Dan lambat-laun kawasan gedung ini sudah mulai banyak dikunjungi oleh turis-turis lokal maupun asing.
Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh pemerintahan Malaysia yang selalu bisa menjual tempat-tempat wisatanya—sekalipun berbentuk gedung tua yang biasanya tidak banyak disukai orang. Makanya itu, tak heran kalau Malaysia memiliki sejumlah tempat wisata yang sangat bervariasi, tidak hanya terpatok dalam satu tempat saja (tidak seperti Indonesia yang terus-menerus mengeksploitasi keterkenalan Bali untuk turismenya).
Gedung bernilai sejarah tinggi dan lokasinya breada didepan Merdeka Square dan Royal Selangor KL ini dirancang oleg seorang arsitek bernama AC. Norman. Gedung ini kontruksinya sudak dimulai sejak tahun 1994 silam dan baru selesai kemudian pada tahun 1897 silam.
Gaya arsitekturalnya sendiri bergaya khas Moorish yang menjadikannya berdiri gagah diantara bangunan-bangunan lainnya disekitarnya.
Gedung ini dinamai dengan Sultan Abdul Samad Building yang merupakan Sultan Selangor yang pernah memerintah antara tahun 1857 – 1898. Bangunan gedung ini memiliki beberapa bagian yang biasanya banyak dikagumi oleh kalangan turis yang datang.
Kubahnya terbuat dari tembaga yang mengkilap dengan ketinggian 41,2 meter. Gedung ini dibangun dengan menggunakan batu bata merah sehingga memiliki kekokohan yang sangat teruji.
Gedung ini memiliki beberapa lengkungan yang sangat enak dipandang seperti lengkungan ogee, lengkungan multifoil, lengkungan sepatu kuda, lengkungan menunjuk dan lainnya. Sultan Abdul Samad Building juga memiliki setidaknya 3 menara yakni Clock Tower yang menjadi menara tertingginya dan juga 2 menara lainnya yang berfungsi sebagai sirkulasi dengan ketinggian yang lebih rendah dibandingkan menara pertama.
Gedung ini bukan hanya bersejarah namun juga memiliki arti yang penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Negeri Jiran.
Gedung ini juga pernah digunakan untuk standardisasi waktu di Malaysia yang pernah berbeda lebih kurang setengah jam terutama di Sabah, Serawak, dan juga Singapura.
Ketika itu, standardisasinya dilakukan pada 1 Januari 1982. Gedung ini pernah digunakan sebagai kantornya administrasi Federasi Negara-negara Melayu setelah selesai dibangun pada tahun 1897 silam. Kemudian pada tahun 1972, gedung ini digunakan untuk Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung Malaysia.
Ketika selesai peresmian wilayah administrative baru Federasi Malaysia selesai, Pengadilan Federal dan Pengadilan Bandung telah dipindahkan ke Istana Kehakiman di Putrajaya. Dan sekarang tempat ini menjadi Divisi Komersialnya Pengadilan Tinggi Malaya serta menjadi pusat kerajinan.
Sebagaimana wisata ke tempat-tempat yang berbasiskan gedung-gedung tua, seyogyanya tak banyak yang bisa dilihat selain kepongahan dan “onggokan” gedung-gedung tersebut yang sarat dengan nilai-nilai kesejarahannya. Makanya kawasan ini sangat tepat bagi Anda yang memang pada dasarnya memiliki kesukaan berlebih terhadap bangunan-bangunan tua sehingga bisa beromantisme dengan segala historisitas yang ada disini.




PANDUAN WISATA
Lapangan Merdeka atau Dataran merdeka berada di Ibukota Kuala Lumpur, Malaysia. Lokasinya tepat berada didepan Gedung Sultan Abdul Samad. Lapangan Merdeka ini dianggap memiliki nilai historis dan perjuangan yang sangat tinggi bagi rakyat Malaysia. Karena di Dataran Merdeka inilah untuk yang pertama kalinya bendera kebangsaan Malaysia dikibarkan menggantikan bendera kolonial, pada waktu tengah malam 31 Agustus 1957 silam. Sejak saat itu, kemudian lapangan ini dijadikan sebagai tempat yang paling dihormati untuk menggelar Upacara Kemerdekaan Malaysia.
http://malaysia.panduanwisata.id/files/2012/02/dataran-merdeka2.jpgLapangan Merdeka ini sebelumnya lebih dikenal sebagai Selangor Club padang atau simpelnya disebut “Padang” saja yang merupakan tempat bermain kriket Selangor Club atau yang sekarang disebut dengan Royal Selangor Club. Namun, pasca peristiwa paling bersejarah tersebut kemudian merubah lapangan ini menjadi tempat yang paling bersejarah dalam lembaran perjalanan Malaysia untuk berdiri menjadi negara berdaulat dan merdeka dari penjajahan kolonial Inggris kala itu.




Gedung Sultan Abdul Samad
http://malaysia.panduanwisata.id/files/2012/02/dataran-merdeka3.jpgSementara tepat diseberang Lapangan Merdeka, berdiri gedung yang sangat megah yang menghadap ke lapangan kemerdekaan ini bernama Gedung Sultan Abdul Samad. Gedung ini merupakan salah satulandmark Kuala Lumpur yang dibangun oleh Inggris dengan memakai jasa arsitek AC Norman. Bangunan ini sendiri konon diinspirasi dari arsitektur Moghul di India. Gedung Sultan Abdul Samad inipun selesai dibangun pada tahun 1897 yang kemudian dijadikan sebagai Gedung Sekretariat Negara, lantas dijadikan Gedung Mahkamah Agung. Dan sekarang gedung ini digunakan sebagai kantor Kementrian Warisan Budaya dan Seni.
 Akses
Cukup mudah untuk menjangkau Dataran Merdeka dan Gedung Abdul Samad ini. Anda cukup naik Kereta Api Putra LRT, kemudian turun di Stasiun Mesjid Jamek. Dari stasiun tersebut, Anda tanyakan kepada penduduk lokal karena jaraknya sudah dekat (sekitar 15 menit berjalan kaki).



DATA BANGUNAN
Sejarah Gedung Sultan Abdul Samad
Bangunan Sultan Abdul Samad merupakan diantara bangunan lama yang ada di Kuala Lumpur dan merupakan bangunan warisan yang masih dilindungi keaslian desainnya. Bangunan ini dibangun pada tahun 1893. Tetapi pengunduran batu dasar bagi bangunan ini hanya dilakukan pada 6 Oktober 1894 oleh Sir Charles BH Mitchell yang merupakan Gubernur Negara-negara Selat ketika itu. Bangunan ini siap dibangun dan digunakan pada tahun 1897. Nama bangunan ini diambil sempena nama Sultan Selangor yang memerintah pada saat itu, yaitu pada tahun 1896. Bangunan itu merupakan landmark Kuala Lumpur yang gagah pada masa itu.
Bangunan tersebut terletak pada satu situs diantara pertemuan Sungai Kelang dan Sungai Gombak dan terkenal karena merupakan satu situs yang strategis, yaitu ditengah-tengah pusat kota Kuala Lumpur. Luas area tersebut adalah 10,200 meter persegi. Di bagian belakangnya terdapat Jalan Belanda yang kini dikenal sebagai Jalan Pengadilan Federal. Peringkat bangunan dikatakan strategis karena dekat dengan Dataran Merdeka, Klub Royal Selangor dan Masjid Jamek yang semuanya dekat Sungai Gombak. Sebelum merdeka, Gedung Sultan Abdul Samad merupakan sebuah Pusat Administrasi Negara-negara Melayu Bersekutu, Kantor Residen- General, Kantor Besar Pos dan setelah kemerdekaan pula, ia dijadikan sebagai Kantor Sekretaris Negara Selangor, Majelis Negara dan Perbendaharaan Negara. Bangunan Sultan Abdul Samad ini juga menempatkan Mahkamah Agung Malaysia dan sebagian dari Pengadilan-pengadilan Tinggi Malaya dan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur pada tahun 1978.

Arsitektur
Rencana gedung ini didesain oleh arsitek dari Inggris bernama AC Norman (yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum di Kuala Lumpur) dan dibantu oleh seorang insinyur juga berasal dari Inggris, yaitu CE Spooner. Bangunan Sultan Abdul Samad ini sangat unik arsitekturnya dan merupakan diantara bangunan yang tersohor pada saat itu. Ia memiliki dua lantai setinggi 57 kaki yang berbentuk tapal kuda dan di tengah-tengahnya terdapat satu dataran tinggi segi empat yang dipagari oleh batas-batas pokok bunga yang cantik. Ada juga tiga kubah, satu menara jam besar dan sebuah arked.Bangunan ini juga memiliki satu serambi besar tertutup yang merupakan suatu elemen penting dalam desain bangunan ini.
Bangunan Sultan Abdul Samad yang berbentuk 'saracenic' merupakan satu ciri arsitektur Moorish dan Moghul yang berunsurkan Islam. 3 buah kubah yang menghiasi bangunan ini membuktikanya. Pada tahap awal itu terbuat dari kayu dan batu bata yang dicat warna hitam, namun itu telah digantikan dengan kubah yang dilapisi tembaga. Sebesar Rp 152,000 telah diinvestasikan untuk membangun bangunan ini dan merupakan bangunan yang termahal di wilayah ini pada saat itu didirikan.
Pada sekitar tahun 1978, renovasi bangunan telah dibuat dan siap sepenuhnya dalam tahun 1984 dengan anggaran belanja sebesar Rp 17,2 juta. Pada saat itu pemerintah Australia telah menyumbang sebesar Rp 200.000 sebagai biaya menyadur tembaga untuk tiga kubah yang terdapat pada bangunan tersebut pada tahun 1982. Renovasi dilakukan hanya pada bagian dalam bangunan tanpa mempengaruhi bagian luarnya dan posisi asli bangunan tersebut. Setelah siap sepenuhnya, Gedung Sultan Abdul Samad ini sekali lagi diresmikan pada tahun 1984.

Rencana Bangunan
Rencana bangunan ini berbentuk tapal kuda yang mana di tengah-tengahnya terdapat satu dataran / halaman segi empat yang dipagari oleh batas-batas pokok bunga. Kehadiran situs ini memberikan ventilasi ke foyer di sebelah tampak dalam bangunan ini.

Bagian utama bangunan ini adalah teras yang menghadap ke arah Lapangan Klub Royal Selangor. Ketika memasuki pintu utama bangunan ini, kita dapat melihat tangga berbentuk setengah lingkaran yang menuju ke kamar-kamar Hakim dan kamar-kamar Mahkamah Agung.

Ruang kantor bangunan ini hampir 100 persen dikelilingi serambi yang mana memberikan ventilasi secara maksimal, terutama pada zaman itu dibangun tidak memiliki pendingin udara. Kerja mengembangkan bangunan ini telah menggunakan 4 juta batu-bata, 2.500 tong semen, 18.000 pikul kapur, 5.000 pon tembaga, 50 ton besi, baja dan 30.000 kaki kubik kayu. Bangunan ini selesai pada tahun 1897 dan diresmikan dengan acara megah dengan ucapan Spooner yang menarik tentang sejarah pembangunan gedung tersebut. Teks lengkap pidatonya dalam bahasa Inggris tersedia dalam JMBRAS VOL. 65, tulisan The Gedung Sultan Abdul Samad by JM Gillick. Bangunan ini pernah menempatkan beberapa buah Kementerian dan Departemen Pemerintah Federal dan Departemen Kerajaan Negeri Selangor. Selanjutnya, bangunan ini telah menempatkan Pengadilan Federal Malaysia dan sebagiannya menempatkan Pengadilan Tinggi Malaya dan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur.

Tampak Bangunan
Kerja-kerja mereka bentuk bangunan ini telah dimulai sejak tahun 1889, setelah WE Maxwell mengambil alih tugas sebagai Residen Inggris di Selangor. Pada masa itu, Kuala Lumpur hanya dihuni oleh bangunan-bangunan rumah toko dan beberapa gedung pemerintah yang tidak berapa menonjol. Maxwell telah membawa CE Spooner dari Ceylon sebagai State Engineer dan dibantu oleh Bellamy dan AC Norman sebagai arsitek.
Desain asli yang dikemukakan oleh Norman adalah hanya sebuah bangunan yang berkonsep Inggris Classical Rennaisance. Bidwell, seorang arsitek muda, adalah orang yang bertanggung jawab mengadaptasi arsitektur Islam (Mahometan style) sebagai tonggak desain tampak bangunan tersebut di atas rencana asli Norman setelah Spooner kurang puas dengan desain tampak yang dikemukakan oleh AC Norman. Bangunan dua lantai ini memiliki ketinggian 17,5 meter dengan menara jam setinggi 40 meter dan meliputi area seluas 10,200 meter persegi.

Fitur utama bangunan ini adalah tiga kubahnya, menara jam besar dan ketangkasan serta lengkungannya yang luas. Ketiga kubah tersebut yang aslinya terbuat dari kayu dan batu bata dan dicat hitam, telah diganti dengan kubah-kubah berlapis tembaga. Kubah yang berada di atas menara jam besar diapit oleh dua kubah kecil dengan tangga spiral menurun. Kubah tengah agak luar biasa karena ia adalah paduan dua fitur tradisional kubah dan kios. Arch yang ada di gedung ini adalah berbentuk tapal kuda yang tajam dengan jarak antara dua tiang yang berbeda-beda. Ini terbuat dari batu-bata yang dicat hitam. Menara jam besar yang terletak di tengah-tengah diimbangi oleh dua menara kecil di sudut bangunan. Tangga spiral di menara kecil ke arah menara tampaknya melambangkan keagungan bangunan ini.
SUMBER:
wikipedia malaysia
panduan wisata malaysia


KATEDRAL ST. JOSEPH, HANOI
St. Joseph's Cathedral
Nhà thờ Lớn Hà Nội, Nhà thờ Chính tòa Thánh Giuse (Vietnamese)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/99/Catedral_de_San_Jos%C3%A9_in_Hanoi.jpg/250px-Catedral_de_San_Jos%C3%A9_in_Hanoi.jpg
LOKASI          :           Nha Tho Street, Hoàn Kiếm District, Hanoi
NEGARA       :           Vietnam
DENOMINASI:          Roman Catholic
SEJARAH
DEDIKASI UNTUK :           St. Joseph
TERBANGUN           :           December 24, 1886
ARSITEKTUR
STATUS                    :           Katedral
STATUS FUNGSI    :           Active



ABSTRAKSI
Katedral St. Joseph (Vietnam: Nha Tho lon Ha Noi, Nha Tho Chinh Toa Thanh Giuse) adalah sebuah gereja di Nha Tho (Gereja) Street di Kiếm Kabupaten Hoàn dari Hanoi, Vietnam. Akhir abad ke-19 Gothic Revival (gaya Neo-Gothic) gereja berfungsi sebagai katedral Katolik Roma Keuskupan Agung Hanoi hampir 4 juta umat Katolik di negara itu.
Konstruksi dimulai pada tahun 1886, dengan gaya arsitektur digambarkan sebagai menyerupai Notre Dame de Paris. Gereja adalah salah satu struktur pertama yang dibangun oleh pemerintah kolonial Prancis di Indocina ketika dibuka pada bulan Desember 1886. Ini adalah gereja tertua di Hanoi.Katedral melakukan beberapa kali massa siang hari. Minggu massa malam di 6:00 PM, banyak orang tumpah ke jalan-jalan. Himne doa disiarkan dan Katolik yang tidak mampu untuk masuk katedral berkumpul di jalan dan mendengarkan lagu-lagu pujian.
GEOGRAFI
Katedral ini terletak sebelah barat dari Danau Hoan Kiem, [3] di sebuah kotak kecil di dalam Old Quarter. Di dekatnya, ada restoran dan blok apartemen kecil. Terletak di ujung Nha Tho (Gereja) Street dan sudut Pho Nha Chung, Katedral yang juga merupakan markas dari Keuskupan Agung Vietnam memiliki kendali lebih 480 gereja dan kapel, dan 113 paroki, dan melayani 400.000 umat Katolik. gerbang utama ke Katedral dibuka selama massa dan selama sisa waktu masuk hanya melalui pintu samping di dinding senyawa Keuskupan. Dari titik ini ke Katedral adalah berjalan ke pintu samping dan kemudian membunyikan lonceng untuk masuk katedral.
SEJARAH
Pada tahun 1872, Perancis di bawah Jean Dupuis ditangkap Benteng Hanoi, sebelum Francis Garnier menaklukkan seluruh kota. Satu dekade berlalu sebelum penjajah yang berada di kontrol penuh dari Hanoi karena pemberontakan pemberontak. Pembangunan katedral paling mungkin dimulai setelah waktu ini dan itu selesai pada Desember 1886, tahun sebelum federasi Indochina Perancis adalah didirikan sebagai bagian dari kerajaan kolonial. Hal ini dibangun oleh misionaris Perancis dan Vikaris Apostolik Tonkin Paul-François puginier yang memperoleh izin dari pemerintah Perancis kemudian kolonial. Itu dibangun di situs Pagoda Thien Bao, sebuah kuil Buddha suci yang menjabat sebagai "pusat administrasi" Tonkin selama era kolonial pra-Perancis. Dalam rangka memfasilitasi pembangunan gereja, pagoda-yang dibangun di saat kota ini didirikan pada masa Dinasti Ly di 11 abad dihancurkan. Katedral ditahbiskan pada tanggal 24 Desember 1886.

Setelah Viet Minh menguasai Vietnam Utara mengikuti Accords Jenewa pada tahun 1954, Gereja Katolik mengalami dekade penganiayaan. Imam ditangkap, dan properti gereja itu disita dan diambil alih. Katedral St. Joseph tidak luput dan ditutup sampai malam Natal 1990, ketika Misa diizinkan untuk dirayakan di sana lagi. Pada tahun 2008, protes berkaitan dengan simbol-simbol agama terjadi di banyak sebelah Katedral.
EKSTERIOR
Dibangun dengan lempengan batu dan bata dengan menghadap beton, façade terdiri dari dua menara, persegi di bentuk, naik ke ketinggian 103 kaki (31 m) dan masing-masing tower dilengkapi dengan lima lonceng. Katedral itu dibangun dalam Gothic Revival (Neo-Gothic) gaya Menara lonceng kembar sering ditarik perbandingan dengan yang di Notre Dame de Paris;. arsitek dari St Joseph berusaha untuk meniru rekan Paris nya. Dinding eksterior gereja yang terbuat dari lempengan batu granit. Selama bertahun-tahun, eksterior katedral telah menjadi sangat lelah akibat polusi berat.

INTERIOR

Jendela dilengkapi dengan kaca patri tinggi dan telah menunjukkan lengkungan. jendela kaca patri di katedral yang diproduksi di Perancis sebelum diangkut ke Vietnam. Langit-langit berkubah rusuk seperti yang terlihat di Eropa abad pertengahan. Nave ini cuaca dan kudus terlihat mengkilap dan terbuat dari emas dipangkas kayu, mirip dengan Phat Diem Katedral dan memiliki Hue hiasan arsitektur kerajaan. Sebuah patung Perawan Maria disimpan di tandu sesuai dengan adat setempat, yang terlihat di sebelah kiri nave. Hal ini di ujung jalan gereja yang merupakan daerah pasar kelas atas dengan butik dan sutra.

SUMBER:
Wikipedia en